Slider

Cara Menghitung Investasi atau Modal Usaha Secara Efektif

Cara Menghitung Investasi atau Modal Usaha Secara Efektif

Bagi Anda yang ingin menambahkan penghasilan pasif, investasi merupakan salah satu metode yang bisa Anda pilih. Sementara itu sebagai seorang pemilik bisnis, usaha Anda juga membutuhkan investasi untuk bisa menjalankan berbagai kegiatan operasional perusahaan. Berikut penjelasan lengkapnya! 

Pengertian Investasi 

Setiap ahli memiliki pengertian sendiri mengenai investasi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), investasi merupakan salah satu bentuk penanaman modal dalam perusahaan atau proyek untuk memperoleh keuntungan. 

Sementara itu, para ahli ekonomi dan finansial mendefinisikan investasi secara berbeda. Mulyadi, ahli ekonomi yang telah menerbitkan beberapa buku finansial di Indonesia menyebutkan investasi sebagai penanaman sumber daya untuk memperoleh laba di masa yang akan datang. 

Sadono Sukirno, pengarang buku yang kerap kali membahas mengenai makro ekonomi dan mikro ekonomi menyatakan investasi sebagai pembelanjaan modal untuk membeli barang dan perlengkapan yang akan digunakan untuk memproduksi barang atau jasa. 

James C. VanHorne, profesor finansial di Universitas Stanford menyatakan bahwa investasi merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan dengan memanfaatkan kas yang ada untuk mendapat hasil di masa yang akan datang. 

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) memiliki definisi yang lebih rumit mengenai investasi. Dinyatakan bahwa investasi adalah aktiva yang digunakan perusahaan untuk meningkatkan jumlah kekayaan melalui pemberian hasil investasi berupa dividen, bunga, royalti hingga uang sewa atau manfaat lainnya.

Cara Menghitung Return on Investment(ROI)

Salah satu parameter yang sering digunakan dalam investasi adalah ROI. ROI ini biasanya digunakan untuk mengevaluasi performa sebuah investasi dan membandingkannya dengan efisiensi dari investasi lainnya.

ROI dapat dihitung dengan membagi keuntungan yang diperoleh dari investasi terhadap biaya investasi. Nilai dari ROI dinyatakan dalam satuan persen. 

ROI (%) = 

ROI yang dinyatakan dalam persen dapat digunakan untuk membandingkan efisiensi dari tiap investasi. Ketika nilai ROI negatif, maka investasi tersebut seharusnya tidak dilakukan karena tidak membawa manfaat yang sepadan dengan biaya yang dikeluarkan. 

Sementara itu, semakin besar nilai ROI yang diperoleh, maka semakin baik investasi tersebut. Sebagai contohnya, Budi menginvestasikan Rp 100 juta di perusahaan otomotif Maju Jaya. Tahun depannya, ia menjual saham miliknya dengan total nilai sebesar Rp 150 juta. Dari sini, bisa dihitung nilai ROI dari investasi Budi. 

ROI (%) =  x 100% = 50 %

Lalu, semisalkan Budi melakukan investasi di perusahaan makanan Berkah Sejahtera dengan nilai sebesar Rp 200 juta rupiah dan kemudian menjual sahamnya dengan total nilai sebesar Rp 250 juta rupiah. Apabila dilihat sekilas, nilai keuntungan yang diperoleh dari hasil investasi Budi di perusahaan Berkah Sejahtera lebih tinggi dari investasi di perusahaan Maju Jaya. 

Namun, apabila dihitung nilai ROI-nya, 

ROI (%) =  x 100% = 25%

Bisa dilihat bahwa nilai ROI investasi kedua jauh lebih kecil dari pada investasi pertama, sehingga dapat disimpulkan investasi yang dilakukan di perusahaan otomotif Maju Jaya jauh lebih baik. 

Cara Menghitung Modal Kerja (Working Capital)

Berbeda dengan ROI, nilai modal kerja bisa diperoleh dari laporan neraca keuangan (balance sheet). Laporan ini bisa didapatkan dari selisih antara aset lancar (current asset) dan kewajiban lancar (current liabilities).

Apabila nilai aset lancar lebih tinggi dari kewajiban lancar, maka menandakan bahwa perusahaan memiliki jumlah aset yang melimpah, sebaliknya ketika jumlah kewajiban jauh lebih tinggi, maka perlu dilakukan pengurangan biaya operasional.

Satuan untuk menghitung modal kerja disebut sebagai current ratio, yang dapat diperoleh dari : 

Current Ratio

3 Hal yang Harus Dihindari Ketika Berinvestasi

Jika Anda hendak melakukan investasi, ada bebeberapa kesalahan yang harus Anda hindari. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut. 

  1. Tidak Memahami Bisnis Bersangkutan

Semisalkan Anda membeli saham sebuah perusahaan ternama di Indonesia, namun ketika ditanya bagaimana model bisnis dari usaha tersebut Anda tidak bisa menjawabnya. Ini akan menjadi malapetaka karena Anda tidak bisa memperkirakan kapan nilai saham dari bisnis tersebut akan meningkat atau menurun. 

  • Investasi Tidaklah Instan

Jika Anda mengharapkan investasi seperti undian berhadiah dengan pengembalian dana yang cepat, maka Anda bisa berakhir rugi besar. Layaknya seperti karir dan sekolah, Anda harus melakukan berbagai pendekatan berbeda untuk bisa menganalisis kapan harus membeli, membiarkan dan menjual saham Anda. Terlalu tergesa-gesa menjual saham ketika harganya sedikit meningkat akan membuat Anda lelah dengan ROI yang tidak seberapa juga. 

  • Jangan Biarkan Emosi Mempengaruhi Keputusan Anda

Dalam berinvestasi, ada dua emosi buruk yang selalu menghantui tiap investor, yaitu ketakutan dan ketamakan. Takut untuk membeli saham di perusahaan tertentu atau tidak menjual saham di waktu yang tepat karena ingin memperoleh keuntungan sebanyak mungkin. 

Lakukan analisis pasar secara objektif, lihatlah secara keseluruhan dan ambil keputusan yang tepat dengan menggunakan kepala dingin. 

Nah, itu dia beberapa hal yang wajib Anda ketahui mengenai investasi, termasuk cara menghitung nilai investasi secara tepat.

Ketika membuat bisnis, investasi dari pihak lain baik angel investor maupun venture capital bisa menjadi salah satu opsi pilihan apabila Anda tidak memiliki modal pribadi yang cukup. Bagaimana, sekarang Anda sudah bisa menghitung investasi secara cepat dan tepat, bukan? Selamat mencoba!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *